Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

Bentuk Kalimat Dalam Bahasa Lio

Kalimat terdiri atas satu klausa disebut kalimat tunggal. Berdasarkan batasan ini kalimat tunggal berklausa tunggal dapat pula merupakan kalimat yang tidak berklausa.
Contoh:
La’e               ‘belum’
Mere mai       ‘kemarin’
Kalimat tungal ini dibedakan menjadi dua, yaitu kalimat mayor dan kalimat minor.

Ø  Kalimat Mayor
Kalimat tunggal berunsurkan S dan P yang dapat disertai unsur O dan K disebut kalimat mayor. Kalimat mayor merupakan konstruksi predikatif. Pola struktur kalimat mayor ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

                      N
                      Kj
    N (Asp)     Sf             (Asp)        N (FD)      (T)         (W)      (M)       (C)        (A)     (Ku) 
                      Bil
                      FD

Keterangan aspek (Asp) ada yang harus terletak mendahului Kj, ada pula yang harus mengikuti Kj. Oleh karena itu, rumus di atas ditulis dalam dua posisi.
(1)   Kalimat Inti
Kalimat mayor yang berunsurkan unsur wajib disebut kalimat inti. Berdasarkan rumus diatas, akan didapatkan lima pola kalimat inti dalam bahasa Lio.
·         N + N
Contoh:
Rusa ndu’a                 ‘Rusa binatang’
Kai kepala desa         ‘Dia kepala desa’
·         N + Kj
Contoh:
Ebe ndeo              ‘Mereka bernyanyi’
Ero lela                ‘Burung terbang’
·         N + Sf
Contoh:
Mamo rongo              ‘Kakek sakit’
Aku fonga                  ‘Aku senang’
·         N + Bil
Contoh:
Ana imu lima            ‘Anak lima orang’
Jara eko telu             ‘Kuda tiga ekor’
·         N + FD
Contoh:
Ema da ghea uma          ‘Ayah ke ladang’

(2)   Kalimat Luas
Struktur kalimat luas bahasa Lio dapat diklasifikasikan seperti berikut:
            
·         FN +  FN    N          
Contoh:
Eda aku sopi                           ‘Pamanku sopir’
Kai ghea Fernandes               ‘Itu Fernandes’
·         FN + N
Contoh:
Gharu kopi ba’i                    ‘Itu kopi pahit’
Kai ata jogha                        ‘Dia orang jahat’
·         N + FKj
Contoh:
Aku jadi lara roke              ‘Aku jadi mengantuk’
             
·         FN + FKj   Kj
Contoh:
Ema kai dei nde’o           ‘Ayahnya suka bernyani’
Jou o bani aja baca         ‘Guru yang galak itu mengajar membaca’
·         N + FSf
Contoh:
Ebe biasa ro                           ‘Mereka biasa sakit’
Kai na wai lami raka do        ‘Beliau kaya pengalaman’

Ø  Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat tunggal yang tidak mempunyai unsur funsional S + P, atau keduanya tidak ada.
Contoh:
Sai?                       ‘Siapa’
Oe                          ‘Ya’
Wengi mai?          ‘Kapan datang?’
Ka dowa?             ‘Sudah makan?’

Berdasarkan contoh diatas, dapat dilihat bahwa ada kalimat minor yang hanya berunsur S.
Contoh:
Sai?     Bentuk lengkapnya Sai gharu?  Siapa itu?   Ada yang berupa predikat saja: Ka dowa?  Dari bentuk Ema ka dowa?  ‘Ayah sudah makan?’

Ø  Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat  yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Berdasarkan hubungan antar unsur langsung, kalimat majemuk dibedakan menjadidua, yaitu:
(1)   Kalimat majemuk setara
(2)   Kalimat majemuk bertingkat

·         Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang sifat hubungan antar unsurnya langsung setara. Maksudnya, klausa yang satu bukan merupakan bagian dari klausa lainnya. (Ramlan, 1981:28).
Kalimat majemuk setara ini dapat dibedakan lagi berdasarkan makna struktural yang timbul akibat hubungan antara klausa yang satu dengan klausa lainnya, sebagaimana berikut ini:
1. Kalimat Majemuk Setara Jumlah
Dalam kalimat ini, klausa yang satu dengan yang lainnya menyatakan makna penjumlahan, yaitu penjumlahan peristiwa, penjumlahan keadaan, bahkan mungkin pula penjumlahan tindakan (Ramlam, 1981:35). Kalimat ini ditandai kata penghubung no’o   ‘dan’, yang kadang-kadang diucapkan no saja.
Contoh:
Ema aku wora ngaja dapi no sepa ai kai   ‘Ayahku membentaknya serta menyentakkan kakinya’.
2. Kalimat Majemuk Setara Urutan
Kalimat setara ini mempunyai sifat hubungan menyatakan urutan peristiwa atau keadaan antara klausa yang satu dengan yang lainnya. Hubungan kalimat ini kadang-kadang tidak ditandai kata penghubung, yaitu kata penghubung yang sering digunakan sawe  ‘sesudah’; ‘sehabis’.
Contoh:
Ka sawe, aku iwa ngadho ngura ngi’i   ‘Sehabis makan, aku tidak lupa menggosok gigi’.
3. Kalimat Majemuk Setara Pilih
Sifat hubungan pilih berarti penerima akan melihat dalam kenyataan hanya salah satu dari klausa itu yang akan , sedang, atau telah terjadi atau yang ada. Kalimat ini biasa ditandai demi  ‘atau’  atau ta ‘atau’.
Contoh:
Kau to’o teka nia aku, demi aku wela kau  ‘Kau pergi dari hadapanku, atau aku membunuhmu’.
4.  Kalimat Majemuk Setara Pertentangan
Kalimat majemuk ini ditandai oleh makna structural klausa yang satu bertentangan atau ditolak isinya oleh klausa lainnya. Kata penghubung yang menandainya di ‘tetapi’.
Contoh:
Sia wewa ghea masa, di sia wewa ina piara molo
‘Pekarangannya itu bersih, tetapi pekarangan ini tidak terpelihara’
Aji kai miwa jie, di kasia kai bhongo dema
‘Adiknya cantik tetapi sayang dia bodoh sekali’
5. Kalimat Majemuk Setara Tingkat
6. Kalimat ini mempunyai makna struktural bahwa klausa yang kemudian melebihi apa yang dinyatakan pada klausa sebelumnya. Hubungan ini jarang ditandai oleh kata penghubung yang kadang-kadang dipakai  mala  ‘malah’; ‘bahkan’.
Contoh:
Kai ghe biasa ro, mala nebu ina to’o talo sawe leka ola eru kai
‘Orang itu sering sakit, bahkan kini tidak dapat lagi bangun dri tempat tidurnya’.

·         Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang salah satunya merupakan bagian klausa lainnya. Klausa yang bukan menjadi klausa lain disebut inti dan klausa yang merupakan bagian klausa lain disebut klausa bukan inti.
Klausa bukan inti merupakan bagian dari klausa inti karena bukan inti yang menduduki salah satu unsur fungsional pada klausa inti. Hal ini berarti bahwa unsur klausa inti bertindak sebagai S, P, O, atau K.
Contoh:
Nebu aku ka taka ine muta-tai   ‘Tengah aku asyik makan, ibu muntah-muntah’

Kalimat ini terdiri atas dua klausa, yaitu Nebu aku ka taka  ‘Tengah aku asyik makan’ dan ine muta-tai  ‘Ibu muntah-muntah’. Kalimat pertama tersusun unsur nebu ‘tengah’ sebagai klausa K, aku  ‘aku’ sebagai klausa S, dan ka taka ‘asyik makan’ sebagai klausa P. Klausa kedua tersusun atas unsur ine ‘ibu’sebagai S, muta-tai ‘muntah-muntah’ sebagai P.
Bila dihubungkan bagian terhadap keseluruhan, klausa pertama merupakan bagian dari klausa kedua karena klausa pertama merupakan unsur W klausa kedua. Dengan demikian, klausa ini dapat disubstitusikan dengan kata keterangan waktu (W), seperti terlihat paradigma berikut:
Nebu aku ka taka, ine muta-tai
       W                        S         P

Klausa bukan inti kadang-kadang menduduki O, seperti terlihat pada contoh berikut:
Aku nosi, ema wora da ghea aku   ‘Aku tahu ayah marah padaku’
Kalimat ini terdiri atas dua klausa, yaitu klausa inti aku nosi ‘aku tahu’ dan klausa bukan inti  ema wora da ghea  ‘ayah marah padaku’. Dilihat dari unsur fungsionalnya: Aku  ‘aku’ sebagai subyek (S) dan nosi ‘tahu’sebagai predikat (P).




Jumat, 29 Mei 2015

Jenis-jenis Kalimat Dalam Bahasa Lio

Kalimat
Kalimat merupakan satuan gramatik yang bukan merupakan unsur dari konstruksi yang lain. Batasan kalimat menurut Bloch dan Tragger (1994:75) adalah sebagai berikut:
"In any give utterance, an expression which is not in construction with any other part of the utterance is a sentence." Sementara itu dalam pengertian yang sama namun beda pernyataan, Hockett (1959:199) mengemukakan "A sentence is grammatical form which is not in contruction with any other grammatical form: a constitute which is not constituent".

Jenis-jenis Kalimat Dalam Bahasa Lio
Setiap kalimat terdiri atas dua unsur. Unsur yang pertama berupa intonasi, dan yang kedua berupa klausa.Dengan kata lain kalimat terdiri atas lapisan segmental dan suprasegmental.
Berdasarkan intonasinya, kalimat dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah.

1. Kalimat Berita
Kalimat berita ditandai oleh intonasi kalimat berita. Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita pada umumnya berfungsi memberitakan sesuatu kepada orang lain (Ramlan 1981:10).
Contoh:
Lawo ghe lawo Kelimara o ura keku   'Sarungnya sarung Kelimara yang sangat halus'
Kami nai no jara                                  'Kami berkendaraan kuda'

2. Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang ditandai pola intonasi kalimat tanya. Kalimat tanya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kalimat tanya utuh dan kalimat tanya bagian (Slamet Muljana, 1969:136,139).
a. Kalimat Tanya Utuh
Kalimat tanya utuh adalah kalimat tanya yang memerlukan jawaban oe 'ya' atau iwa 'tidak'. Kalimat tanya utuh ini sering ditandai oleh intonasi saja.
Contoh: 
kau geti uwi kayu?    'kau membeli ubi kayu?'
kau sena kai?            'kaumenyukainya'
b. Kalimat Tanya Bagian
Dalam bahasa Lio kata tanya ini menggantikan tempat bagian yang ditanyakan sehingga bisa terletak didepan, ditengah, ataupun di belakang.
Contoh: 
apa gharu?        'apa itu?'
gharu apa?        'itu apa?'
apa o kau ka?    'apa yang kau makan?'

3. Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang berdasarkan fungsi dalam kaitannya dengan situasi mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara/penerimanya. Ciri formal kalimat ini adalah kalimat yang berklausa kerja dan berpesona kedua, tetapi personanya tidak dinyatakan.
Berdasarkan fungsinya dalam hubungan dengan situasi, kalimat perintah dibedakan menjadi:
(1) Kalimat Perintah Sebenarnya
Contoh: 
ka are ghea!        'makan nasi itu!'
jeso da gharu!     'geser ke situ!'
mbana kau!         'pergi kau!'

(2) Kalimat Permintaan
Contoh:
tolo, medi buku ghea!     'tolong, bawakan buku ini!'
maso si!                          'masuklah!'
mera si!                           'duduklah!'

(3) Kalimat Perintah Ajakan
Contoh: 
mai si kita du'i salo'o!      'mari kita istirahat sebentar!'
mai si maju!                     'ayo maju!'

(4) Kalimat Perintah Larangan
mai ngala meko!        'jangan bergerak!'
iwa ngala mbabho!    'dilarang berbicara!'

(5) Kalimat Perintah Peringatan
Contoh:
jaga-jaga jala o ngelu!    'hati-hati jalan licin!'

(6) Kalimat Perintah Sapaan
Contoh:
Ine!
Ema!

(7) Kalimat Makian
Contoh:
lako!          'anjing!'
kora aja!    'kurang ajar!'

(8) Kalimat Seruan
Contoh:
oi!            'aduh!'
astaga!    'astaga!





Rabu, 27 Mei 2015

Klausa dalam Bahasa Lio

Peta Kabupaten Ende (Sumber: Google Map)


Klausa
Klausa adalah suatu konstruksi yang berunsurkan subyek dan predikat yang biasa disebut konstruksi predikatif. Ramlan (1981: 62) menjelaskan tentang klausa sebagai satuan gramatik yang terdiri atas predikat, baik disertai subyek, obyek pelengkap, dan keterangan ataupun tidak. Klausa merupakan salah satu lapisan dari dua yang ada pada kalimat. Kalimat pada umumnya terdiri atas intonasi dan klausa, dan kalimat sederhana terdiri atas intonasi dan sebuah klausa (Hockett, 1959: 203, 204).
Contoh: 
        ka mbeja, aku iwa ngadho goso ngi'i       'sehabis makan, aku tak lupa menggosok gigi'
        aji wiki sanda                                            'adik mengambil sandal'

Contoh pertama, disamping intonasi terdiri atas tiga klausa, yaitu (1) ka mbeja 'sehabis makan'    (2) aku iwa ngadho 'aku tak lupa', (3) goso ngi'i  'menggosok gigi', sedangkan pada kalimat kedua, disamping intonasi terdiri atas sebuah kalimat klausa.

Unsur-unsur Klausa
Klausa ka mbeja 'sehabis makan' terdiri atas unsur ka 'makan' yang secara fungsional biasa disebut predikat (P) dan mbeja 'sehabis' yang secara fungsional berkedudukan sebagai penghubung (Phb). Klausa aku iwa ngadho 'aku tak lupa' terdiri atas aku sebagai subyek (S) dan iwa ngadho 'tidak lupa' sebagai predikatnya (P). Unsur klausa goso ngi'i  'menggosok gigi' terdiri atas unsur goso 'menggosok' sebagai P dan ngi'i 'gigi' sebagai obyek penderita (Opd). Pada klausa aji wiki sanda 'adik mengambil sandal' berunsurkan aji 'adik' sebagai S, wiki 'mengambil' sebagai P, dan sanda 'sandal' sebagai Opd.
Klausa dapat pula dilengkapi unsur keterangan, misalnya:
Ule telo haba leka kai  'burung bertelur di sarangnya'. Pada klausa ini, ule 'burung' sebagai S, telo 'telur'sebagai P, dan leka haba kai 'disarangnya' sebagai keterangan tempat (T).
Berdasarkan contoh dan uraian tersebut jelaslah bahwa P merupakan unsur klausa yang kehadirannya bersifat mutlak. Unsur yang mempunyai sefat demikian biasa disebut sebagai unsur wajib (yang dapat diikuti atau didahului oleh unsur S, O, atau K. Dengan demikian, struktur klausa dapat dirumuskan sebagai berikut:  

(S) P (O) (Kt)

Unsur yang tertera dalam kurung merupakan unsur yang boleh ada dan boleh pula tidak ada dan yang tidak tertera dalam kurung merupakan unsur wajib.

Obyek (O) dapat dibedakan atas obyek penderita (Opd) seperti are pada aku ka are 'aku makan nasi' dan obyek penyerta (Opt) seperti kaba pada David nosi kaba leka kami 'David menyampaikan kabar kepada kami'. Unsur leka kami 'kepada kami' dalam kalimat ini berfungsi sebagai obyek penyerta.

Dalam bahasa Lio tidak ditemukan obyek pelaku karena kalimat pasif tidak ada dalam bahasa ini. 
Berdasarkan makna strukturnya, keterangan (K) dapat dibedakan sebagai berikut:
1. keterangan tempat (T)
Contoh: ae bere da lau mesi   'air mengalir ke laut'

2. keterangan waktu (W)
Contoh: mere mai kai mbana          'kemarin dia pergi'
              nebu ina kai bhanda ria     'sekarang beliau kaya raya'

3. keterangan alat (A)
Contoh: kami ka no'o soko     'kami makan dengan sendok'

4. keterangan cara (C)
Contoh: ebe mere so molo-molo            'mereka duduk secara teratur'
              kai mbabho no'o keku keta       'dia berbicara dengan lemah lembut'

5. keterangan modal (M)
Contoh: sai mbe'o kai wora    'barangkali beliau marah'

6. keterangan kuantitas (Ku)
Contoh: aku mbana selama we'e  'aku pergi sebentar saja'
              sadeka-sadeka pelese     'sesekali pelesir'

Klausa, baik yang unsur-unsurnya lengkap ataupun yang hanya berupa unsur wajib dapat bersifat sebagai bagian bentuk yang lebih besar (dependent) ataupun merupakan bentuk yang mandiri (independent). Klausa yang mandiri akan merupakan kalimat dan klausa yang lebih besar akan merupakan unsur bagikalimat majemuk (Hockett, 1959:205).

Jenis Klausa
1. Klausa Nominal
Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase nominal. Dalam klausa ini tidak terdapat unsur fungsional obyek (O) atau keterangan (K)
Contoh:
eda ghea    'paman itu'
ina kai         'ini dia'

2. Klausa Kerja
Klausa kerja berpredikat kata kerja atau frase kerja merupakan klausa yang paling banyak ditemukan dalam bahasa Lio. Strutur klausa ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

                       (N)  Kj  (N)  (W)  (FD)  (C)  (M)  (Ku)  (A)

Unsur yang boleh ada ataupun boleh tidak ada yang berkategori FD (frase depan), disamping dapat meduduki keterangan tempat, keterangan cara, keterangan alat, juga bisa berkategori FD, bahkan obyek penyerta juga berkategori FD. 
Contoh:
aku menga umi we                     'aku tersenyum saja'
ine geti lambu baru pati aji          'ibu membeli baju baru untuk adik'
aku mbana da ghale Ende          'aku pergi ke Ende'
ka'e wedho no'o gai                    'kakak menari dengan lincah' 

Struktur klausa kerja ini dapat bervariasi karena pergeseran letak unsur-unsurnya. Hanya Opd yang tidak dapat digeser letaknya.

3. Klausa Sifat
Klausa sifat adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase sifat. Klausa sifat ini dapat berunsur keterangan waktu, keterangan modal, keterangan kualitas, sehingga strutur klausa sifat dapat dirumuskan:

                                    (N)  Sf  (W)  (M)  (Ku)

Contoh: 
lambu kai kune                        'bajunya kuning'
aji kai nuwa ji'e sai mbe'o        'adiknya cantik barangkali'

4. Klausa Bilangan
Klausa bilangan adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase bilangan. Seperti pada klausa nominal, klausa ini tidak mempunyai unsur O dan K.
Pola strukturnya: (N)   Bil
Contoh: 
jara aku eko sutu                'kudaku empat ekor'
ana ghe imu lima                'anaknya lima orang'

5. Klausa Depan
Klausa depan adalah klausa yang predikatnya berupa frase depan. Klausa ini tidak begitu banyak dalam bahasa Lio.
Contoh: 
ema da ghea uma       'ayah ke ladang'
almari ghea wasu        'lemari di sudut'
kami leka sa'o              'kami di rumah'


Klausa depan ini sebeenarnya klausa kerja yang berunsur keterangan tempat sehingga klausa tersebut sering bervariasi dengan klausa kerja.

Jumat, 17 April 2015

Sintaksis Bahasa Lio: Jenis Frase

2.  Frase  Kerja (FKj)

a. K (Kata kerja) + N (Nominal)
Menurut Hocket (1959: 195), frase kerja makna strukturalnya 'kata benda yang mengikuti kata kerja merupakan objek tindakan'. Konstruksi objektif semacam itu tergolong dalam tipe konstruksi eksosentrik direktif.
Contoh:  soe rusa                           'menjerat rusa'
               pura ndu'a                       'menebang hutan'
               teka uta                           'berjualan sayuran'
               geti pati aji lambu           'membelikan adik baju'

b. Kj + Kj
Dilihat dari hubungan unsur-unsurnya, frase kerja ini dapat dibedakan menjadi ddua, yaitu yang mempunyai sifat hubungan endosentrik atributif dan eksosentrik koordinatif.

1) Endosentrik atributif
Makna struktural frase ini atribut menyatakan tujuan daari intinya.
Contoh: belaja teka geti                    'belajar berdagang'
              aja tuli                                 'mengajar menulis'
              mbana jolo                          'pergi merantau'
2) Endosentrik Koordinatif
Contoh: ka mi                   'makan minum'
              mbana mai          'datang pergi'
              nai wau               'naik turun'
              mata ta muri       'mati atau hidup'
              ka no eru             'makan dan tidur'

c. BKj (Kata Bantu Kerja) + Kj
Struktur frase kerja ini terjalin dalam hubungan endosentrik atributif dengan inti berupa kata kerja yang didahului atribut kata bantu kerja.
Contoh; ngala eru/roke        'bisa tidur'
              wi ka                      'ingin tidur'
              wi ale                     'ingin bertanya'

d. BKj + FKj
Struktur frase ini terjalin dalam hubungan endosentrik atributif dengan inti berupa frase direktif objektif (Kj + N) yang didahului atribut berupa kata bantu kerja.
Contoh: ngala sai itha-itha ghe       'berhasil meraih cita-citanya'
              ngala pati du'u pegawe      'berhak memecat pegawai'

e. Kj + BKj
Yaitu frase yang intinya mendahului atribut.
Contoh: tiwa ngala      'dapat berlabuh'

f. Kj + BKj + N atau FKj + N
Struktur frase kerja ini mempunyai sifat hubungan eksosentrik direktif objektif dengan direktor berupa kata kerja diikuti kata kerja dan aksis kata nominal.
Contoh: deo ngala ata nola     'berhasil menangkap penjahat'
              deo ngala rusa           'berhasil menangkap rusa'

g. Kj + Sf
Frase kerja ini mempunyai distribusi yang sama dengan Kj dengan atribut kata sifat yang menyatakan makna struktural 'cara melaksanakan tindakan'.
Contoh: mbana mamawe         'berjalan pelan-pelan'
              roke ndate                  'tidur nyenyak'
              ke ngo'i                      'menangis terisak-isak'

h. Kj + D (Kata Depan) + Sf (kata Sifat)
Pada frase ini hubungan unsur-unsurnya dieksplisitkan dengan kata depan no'o  'dengan' atau so  'secara'.
Contoh: mbana no'o olu                        'berjalan dengan tenang'
              mbabho no'o keku keta           'berbicara dengan lemah lembut'

i. Ku (Keterangan kuantitas) + Kj
Frase kerja ini tersususn atas kata keterangan kuantitas (sebagai atribut) diikuti oleh kata kerja sebagai intinya. Makna strukturalnya 'atribut menyatakan kekerapan tindakan'.
Contoh: sadeka-sadeka mbana           'kadang-kadang pergi'
              sadeka-sadeka pelese            'sesekali pelesir'
              no'o deka ghe pelese             'berkali-kali pelesir'

j. Kj + D (Kata depan) + Kj
Frase ini terjalin dalam hubungan endosentrik atributif. Intinya berupa kata kerja diikuti frase depan yang aksisnya berupa kata kerja.
Contoh: eru no'o boro                        'tidur dengan mendengkur'
              mera no musu bako              'duduk sambil merokok'

k. Kj + Ku (Keterangan Kuantitas)
Frase ini makna struktural menunjukkan kekerapan tindakan intinya.
Contoh: gare tepi bhondo         'banyak bicara,bicara banyak'
             mbana salama we'e      'pergi sebentar saja'
              napa salo'o                  'tunggu sebantar

l. Kj + W (Keterangan Waktu)
Makna strukturalnya 'atribut menyatakan waktu berlangsungnya tindakan pada inti'
Contoh: ka kobe                      'makan malam'
              mbana buga la'e        'berjalan-jalan pagi hari'
              ka buga la'e               'makan pagi'

m. W + Kj
Frase ini mempunyai sifat hubungan dan makna struktural sama dengan frase (l), tetapi strukturalnya berbeda.
Contoh: nawo lo mai         'nanti datang'
              wisia mbana         'besok pergi'

n. Asp (Keterangan Aspek) + Kj
Frase kerja ini dapat dgantikan kata kerja pada distribusinya dalam sebuah kalimat sehingga keterangan aspek sebagai atributnya. Makna strukturnya  'atribut menjelaskan tentang proses berlangsungnya tindakan pada inti: apakah tindakan tersebut akan berlangsung, atau tengah berlangsung'
Contoh: nebu eru         'sedang tidur'
             nebu gare tei   'sedang bercakap-cakap'

o. Kj + Asp
Atribut menjelaskan bahwa proses tindakan telah berlangsung, akan berada di belakang/mengikuti kata kerja sebagai intinya.
Contoh: roke dowa     'sudah tidur'
             minu dowa     'sudah minum'
             ka dowa         'sudah makan'

p. Kj + FD
Frase kerja ini beratribut frase depan dengan struktural sebagai berikut:
(1) atribut ,erupakan alat untuk melakukan tindakan pada inti
Contoh: ka no'o soko      'makan dengan sendok'
              eru no'o te'e      'tidur dengan tikar'
(2) atribut menyatakan tempat kejadian
Contoh: mai ghele keli          'datang dari gunung'
              rio leka lowo           'mandi di sungai'

q. M + Kj
Pada frase ini kata keterangan modal sebagai atribut diikuti kata kerja sebagai inti, dihasilkan frase kerja seperti contoh dibawah ini:
pasti baka    'pasti tumbang'
pasti mai      'pasti datang'

r. Kata Keterangan Ingkar + Kj
Contoh: iwa bere    'tidak mengalir'
              iwa latu     'tidak ada'


 

Jumat, 27 Maret 2015

Sintaksis Bahasa Lio (2)

Jenis Frase
1. Frase Nominal (FN)
    Frase ini disebut frase nominal karena frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan kata               nominal (Ramlan,1981: 128). Frase ini berupa frase endosentrik dan eksosentrik.
    Berdasarkan jenis dan struktur unsur-unsurnya, frase nominal ini dapat dibedakan sebagai berikut:
    a) N + N
        Struktur frase ini mempunyai sifat hubungan endosentrik atributif dan koordinatif.
    (1) N + N Endosentrik Atributif
         Berdasarkan makna struturnya, frase ini dapat dikelompokkan menjadi 3:
         * posesif; yaitu atributnya sebagai pemilik terhadap intinya.
            Contoh:       ana aku        'anakku'
                                nia kau         'keningmu'
         * limitatif; yaitu atributnya menunjukkan asal tentang intinya.
            Contoh:      podo tana        'periuk tanah'
                               doi besi            'uang logam'
                               lawo Lio           'sarung Lio'
          * kegunaan; yaitu atributnya menyatakan kegunaan tentang intinya.
             Contoh:     kae ola katu neka       'kain pembalut luka'
       (2) N + N Endosentrik Koordinatif
             * jumlah
                Contoh:       kaki fai          'laki bini'
                                    ana mamo     'anak cucu'
              * pilihan
                 Contoh:       kopi ta te                    'kopi atau teh'
                                     lembu ta kamba         'domba atau kambing'
              *apositif 
               Contoh:          Ahmad jou Lesty        'Ahmad guru Lesty'
     
        b) N + Sf
            Frase ini mempunyai sifat hubungan endosentrik atributif. Berdasarkan makna strukturnya,                 frase ini dikelompokkan sebagai berikut:
            (1) kualitas; yaitu atributnya menyatakan kualitas intinya.
                  Contoh: kae keku        'kain bagus'
                                salake baru   'celana baru'
             (2) atribut yang menyatakan rasa
                   Contoh:  te mi               'teh manis'
                                  ikan gara        'ikan asin'
                               
             (3) atribut yang menyatakan warna
                   Contoh:  lambu mbopo           'baju hijau'
                                  bunga mera             'bunga merah'
             (4) atribut yang menyatakan peringai
                  Contoh:    ata jogha      'orang jahat'
                                   lako bani      'anjing galak'
              (5)atribut yang menyatakan intinya
                   sa'o ria         'rumah besar'
                   uma ria        'ladang luas'
              (6) atribut yang menyatakan keadaan tentang dirinya
                   Contoh:       ata ro         'orang sakit'
                                       tana tu'u    'tanah kering'
     
           c) FN + yang + Sf
               Stuktur frase ini menyatakan sifat hubungan endosentrik atributif. Inti frase ini berupa frase                nominal yang berstruktur N + N dengan sifat hubungan endosentrik atributif; atributnya                      menyatakan pemiliknya.
               Berdasarkan makna strukturalnya, frase ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
               (1) atributnya menyatakan kualitas intinya;
                     Contoh:   lima gheo raki       'tangannya yang kotor'
                                     lawo ghe o keku     'sarungnya yang halus'
               (2) atributnya menyatakan rasa tentang intinya;
                     Contoh:    te ghe o mi          'tehnya yang manis'
                                      oba ghe o ba'i      'obatnya yang pahit'
                                      uta ghe o ro         'sayurnya yang pedas'
               (3) atributnya menyatakan warna intinya;
                     Contoh:    moki ghe o mera       'bibirnya yang merah'
                                      ku'i ghe o kune          'kulitnya yang kuning'
               (4) atributnya menyatakan peringai intinya;
                     Contoh:    fai ghe saga boko        'istrinya yang pendek'
                                      kaki miu o bani            'suamimu yang bengis'
               (5) atributnya menyatakan ukuran intinya;
                     Contoh:    uma ghe o ria                'kebunnya yang luas'
                                      lambu ghe o mare         'bajunya yangsempit'
               (6) atributnya menyatakan keadaan intinya;
                     Contoh:    angi ghe o petu                    'anginnya yang kencang'
                                      angi ghe o keta bheni          'anginnya yang sejuk'
           
               d) N + yang + Kj
                    Struktur frase ini terjalin dalam hubungan endosentrik atributif dengan makna struktural                       'inti sebagai sebagai pelaku tindakan yang dinyatakan pada atribut'.
                    Contoh:   ata o luku          'orang yang membajak'
                                    ata o toja           'orang yang menari'
                       
              e) N + Bil
                  Struktur frase ini terjalin dalam hubungan endosentrik atributif, N (kata nominal) sebagai                     inti dan Bil (kata bilangan) sebagai atribut. Makna struktural frase ini 'atribut yang                               menyatakan intinya'.
                  Contoh:   ana o mulu       'anak pertama'
                                  ata kedua         'orang kedua'
                                  pene keena       'pintu keenam'

               Kata bilangan yang menyatakan tingkat dalam bahasa Lio hanya dikenal mulu sehingga bila                terjadi tingkat urutan, selebihnya menggunakan kata-kata serapan dari bahasa Indonesia.
               Makna struktural frase nominal dengan atribut kata bilangan ini, selain tersebutkan di atas,                  yaitu 'atribut menyatakan jumlah'.
               Contoh:   ebe sebhondo       'banyak orang'      
                               ata rua                  'dua orang'  
         
              f) N + BBil + Bil 
                  Atribut struktural frase nominal ini berupa frase bilangan yang berstruktur kata bantu                           bilangan dan diikuti kata bilangan. Makna struktural frase nominal ini "atribut                                       menyatakan jumlah' .
                  Contoh:  are lite rua         'dua liter beras'      
                                 luka pata rua      'dua lembar sarung'

              g) N + Sd
                  Struktur frase ini terjadi dalam hubungan endosentrik atributif dengan makna struktur                           'atribut sebagai penentu terhadap inti'. Dengan kata lain, kata nominal selaku intinya                             merupakan kata yang telah dibicarakan sebelumnya atau akan dibicarakan berikutnya.
                  Contoh:  manusia ghea      'manusia itu'
                                 jara ina                'kuda ini'
           
             h) Sd +N
                 Inti struktur frase ini berupa kata nominal kata ganti nama dengan atribut kata sandang                        a 'si' bila intinya berjenis kelamin laki-laki dan ni  'si' bila intinya perempuan.
                 Contoh: a Beby      'si Beny'
                               ni Tety      'si Tety'

            i) N + FD
               Atribut frase nominal ini berupa frase depan dengan makna struktural sebagai berikut:
               (1) atributnya menunjukkan tempat asal inti; 
                    Contoh:  kaba  mai ghea nuwa       'kabar dari kampung'
               (2) atributnya menunjukkan tempat keberadaan inti; 
                     Contoh: gamba leka kebi           'gambar di dinding'
               (3) atributnya menunjukkan tempat yang dituju; 
                     Contoh:  tabe pati ine      'salam untuk ibu'
       
           j) N + Ket
               Struktur frase nominal ini terjalin dalam hubungan endosentrik atributif dengan atribut kata                keterangan waktu sehingga bermakna struktur 'atribut sebagai penunjuk waktu yang                            berkenaan dengan intinya'.
               Contoh: sura kaba mare mai       'surat kabar kemarin sore'
                           
           k) Phb + Kj
               Struktur frase nominal Phb + Kj ini terjalin dalam hubungan eksosentrik direktif dengan                      direktor kata penghubung o 'yang' dan aksinya berupa kata kerja. Frase ini digolongkan                        frase nominal karena dapat digantikan oleh kata nominal dalam pemakaiannya pada suatu                    kalimat.
               Contoh:  o gena nggepi      'yang terjepit'

           l) Phb + Sf
              Frase ini tidak berunsurkan kata nominal, tetapi karena dapat digantikan oleh kata nominal                   atau mempunyai distribusi yang sama dengan kata nominal dalam pemakaiannya pada suatu               kalimat, maka disebut frase nominal. Hubungan antar unsurnya bersifat eksosentrik direktif.               Makna strukturalnya 'yang mempunyai sifat/keadaan seperti tersebutkan pada akhirnya'.
              Contoh:  o ura mo'o      'yang malas'
                             o ro                 'yang sakit'
                             o bugu             'yang rajin'

           m) Phb + N (Kata Ganti Tunjuk)
                Dalam frase ini terdapat N sebagai unsurnya, tetapi tidak dapat menggantikan keseluruhan                   frase tersebut. Namun frase ini tetap digolongkan frase nominal karena mempunyai                             distribusi yang sama dengan kata nominal.
                Frase yang dimaksud adalah:
                o ina      'yang ini'
                o ghea    'yang itu'

           n) Phb + N (Kata Ganti Tempat)
               Struktur frase nominal ini terjalin dalam hubungan eksosentrik direktif dengan direktor kata                penghubung penjelas o 'yang' dan aksis kata ganti tempat kata ganti tempat gha 'sini' atau                    ghea  'situ'.
               Frase yang dimaksud:
               o gha      'yang sini'
               o ghea     'yang situ'

          o) Phb + FD
              Dengan memperhatikan unsur-unsur langsungnya, frase nominal ini terjalin dalam hubungan               eksosentrik direktif.
              Contoh:  o mbana Surabaya    'yang pergi ke Surabaya'

          p) Phb + Kt
              Kata  penghubung o 'yang' (selaku aksis) berkonstruksi dengan kata keterangan (sebagai                     aksisnya) dalam hubungan eksesentrik direktif menghasilkan frase nominal.
              Contoh: o mere mai   'yang kemarin'
                            o nebu ina    'yang sekarang'

          q) Phb + Bil
              Frase nominal dapat pula dihasilkan oleh kata penghubung penjelas o (sebagai direktor)      
              berkonstruksi dengan kata bilangan (sebagai aksis) dalam jalinan eksosentrik direktif.
              Contoh: o esa lima                     'yang lima'
                            o sembulu eko rua        'yang dua belas ekor'